Free SpongeBob ani - Busy Cursors at www.totallyfreecursors.com

Selasa, 03 Juli 2012

Berkat Sedekah, Tukang Becak Itu Mengunjungi Baitullah

Pak Parman, demikian orang-orang memanggilnya. Dia hanyalah seorang tukang becak. Sudah bisa ditebak, berapa kekayaannya? Dia hanya punya tempat tinggal, dan itu pun kost di tempat yang kumuh, yang gentengnya sewaktu-waktu bisa bocor karena hujan. Meski begitu, Pak Parman memiliki budi yang sangat mulia. Kemiskinan yang merenggut kehidupannya, tidak menutup mata batinnya untuk selalu berbagi kepada orang lain.

“Siapa kira orang miskin tidak bisa naik haji. Karena sedekah, tukang becak yang satu ini justru mendapatkan keberkahan untuk menunaikan rukun Islam kelima.”

Tapi, bukan harta yang bisa ia sumbangkan. Sebab, untuk makan sehari-hari saja sulit, apalagi berniat untuk berbagi harta kepada orang lain. Maka, yang hanya bisa dilakukan Pak Parman adalah “sedekah jasa”. Yaitu, setiap hari Jum’at ia menggratiskan semua penumpang yang naik becaknya. Ini adalah hal yang luar biasa. Tidak semua orang bisa melakukannya, apalagi orang miskin seperti dirinya. Maka, atas kebaikannya itulah, suatu “keberkahan hidup” kemudian menghampirinya.

Suatu ketika, di hari Jum’at pertama bulan Ramadhan, tiba-tiba, ada orang yang kaya raya mobilnya mogok. Kebetulan, mogoknya tidak jauh dari pangkalan becak Pak Parman. Orang kaya itu pun bertanya kepada supirnya, “Pir, kalau naik becak kira-kira ongkosnya berapa ya?”

“Paling juga dua sampai tiga ribuan,” jawab supir kepada majikannya.

Orang kaya tersebut pun memutuskan naik becak karena sebenarnya jarak dirinya dengan rumahnya sudah lumayan dekat. Maka, dipanggillah tukang becak yang ada di pangkalan tersebut dan kebetulan Pak Parman yang datang. Lalu, digoeslah becak itu oleh Pak Parman menuju rumah orang kaya tersebut. Setelah sampai di tempat, Pak Parman dikasih uang 10 ribu dan tidak usah dikembalikan. Namun, oleh Pak Parman uang itu ditolaknya.

“Kenapa Bapak menolaknya?” tanya orang kaya itu..

“Saya sudah meniatkan dari dulu, kalau setiap Jum’at saya menggratiskan semua penumpang yang naik becak saya,” jawabnya jujur.

Setelah itu, Pak Parman pun pergi meninggalkan orang kaya tersebut. Rupanya, kejadian itu sangat membekas di hati orang kaya tersebut. Orang kaya seperti dirinya saja tidak pernah sedekah, ini orang miskin malah melakukannya dengan begitu tulus. Lalu, dikejarlah Pak Parman. Setelah dapat, Pak Parman pun dikasih uang satu juta. Orang kaya itu pikir, Pak Parman akan menerimanya karena uangnya besar. Tapi, Pak Parman tetap menolaknya. Lalu, dinaikkan lagi menjadi dua juta dan tetap Pak Parman menolaknya. Alasan Pak Parman sama: dia tidak menerima uang sepeser pun di hari Jum’at untuk jasa ojek becaknya. Sebab, dia sudah meniatkannya untuk bersedekah. Subhanallah!

Tapi, hal ini justru membuat orang kaya tersebut semakin penasaran. Maka Jum’at berikutnya (di hari Ramadhan juga), orang kaya itu pun naik becak lagi. Ia sengaja meninggalkan supirnya untuk pulang ke rumah sendiri dan dia lebih memilih berhenti di pangkalan itu untuk bisa naik becak Pak Parman. Maka diantarlah orang kaya tersebut ke rumahnya oleh Pak Parman. Setelah sampai, Pak Parman pun diberikan uang yang lebih besar lagi, kali ini 10 juta. Orang kaya itu pikir Pak Parman akan tergoda oleh uang sebanyak itu. Tapi, lagi-lagi, perkiraannya meleset. Pak Parman, sekali lagi, menolak uang yang bagi dia itu sebenarnya sangat besar. Apalagi, sebentar lagi akan Lebaran dan uang itu pasti akan berguna buat dirinya dan keluarganya. Tapi, orangtua itu menolaknya dengan halus.

Kejadian ini benar-benar membuat orang kaya tersebut tidak mengerti. Kenapa orang miskin seperti Pak Parman tidak mau menerima uang sebesar itu? Padahal, uang itu bisa ia gunakan selama berbulan-bulan. Namun, rasa penasaran orang kaya itu rupanya tidak pernah berhenti. Jum’at berikutnya, dia pun naik becak milik Pak Parman lagi. Namun, kali ini ia minta diantarkan ke tempat yang lain.

“Pak, antarkan saya ke rumah Bapak,” pinta orang kaya.

“Memangnya, ada apa, Pak?” jawab Pak Parman polos.

“Pokoknya, antarkan saya saja.”

Akhirnya, Pak Parman terpaksa mengantarkan orang kaya itu ke rumahnya. Mungkin orang kaya itu hanya ingin menguji: apakah tukang becak itu benar-benar orang miskin ataukah tidak? Mereka pun akhirnya sampai di rumah Pak Parman. Betapa terkejutnya orang kaya itu, karena rumah yang dimaksud hanyalah sebuah rumah kost yang sangat jelek. Gentengnya sewaktu-waktu bisa roboh karena terpaan air hujan. Karena sangat iba melihat kejadian itu, orang itu pun merogoh uangnya sejumlah Rp. 25 juta.

“Ini Pak, uang sekedarnya dari saya. Mohon Bapak menerimanya,” pinta orang kaya kepada Pak Parman.

Apa reaksi Pak Parman? Ternyata, dengan halus dia pun tetap menolaknya. Hal ini benar-benar sangat mengejutkan orang kaya itu. Bagaimana bisa orang semiskin dia menolak uang pemberian sebesar Rp. 25 juta? Kalau bukan dia adalah lelaki yang luar biasa, yang memiliki budi yang sangat luhur.

Akhirnya orang kaya itu pun menyerah. Dia benar-benar kalah dengan ketulusan hati Pak Parman. Ia percaya bahwa apa yang dilakukan Pak Parman benar-benar tulus dari hatinya. Ia benar-benar tidak tergoda oleh indahnya dunia dan kilaunya uang jutaan rupiah. Mungkin ia satu pribadi yang langka dari 1000 orang yang ada, yang sewaktu-waktu hanya muncul di dunia. Luar biasa!

Tapi, orang kaya itu berjanji bahwa suatu saat ia akan memberikan yang terbaik buat tukang becak yang berhati mulia tersebut. Sebab, mungkin, baru kali ini hatinya terusik lalu disadarkan oleh orang miskin yang hanya seorang tukang becak. Dan waktu pun terus berlalu.

Lebaran telah tiba. Pak Parman dan orang kaya itu tidak bertemu lagi. Menjelang Lebaran Haji (Idul Adha), orang kaya itu kembali menemui Pak Parman di rumah kostnya. Kembali ia pun datang di hari Jum’at. Mudah-mudahan kali ini niatnya tidak sia-sia. Setelah mereka bertemu, di depan Pak Parman orang kaya kemudian bicara terus terang, “Pak, mohon kali ini niat baik saya diterima. Bapak dan istri serta anak Bapak akan saya berangkatkan haji ke Tanah Suci. Sekali lagi, mohon Bapak menerima niat baik saya ini?”

Pak Parman menangis di depan istri dan anak semata wayangnya. Pergi ke Mekkah saja tidak pernah ia bayangkan sejak dulu, ini apalagi ia dan keluarganya akan diberangkatkan naik haji. Ini benar-benar hadiah yang sangat luar biasa dari Allah swt. Tawaran orang kaya itu pun diterima Pak Parman dengan setulus hati.

Maka, Pak Parman dan keluarganya pun akhirnya pergi haji. Ya, seorang tukang becak yang miskin tapi memiliki hati yang sangat mulia akhirnya bisa melihat keagungan Ka’bah di Mekkah al-Mukarramah dan makam Nabi Muhammad saw di Madinah. Kebaikannya dibalas oleh Allah. Ia yang menolak satu juta, dua juta, 10 juta, hingga Rp. 25 juta, tapi Allah menggantinya dengan haji ke Baitullah, bersama istri dan anaknya! Jadi, berapa kali lipatkah keberkahan yang didapatkan Pak Parman karena sedekah yang ia lakukan setiap hari Jum’at?! Subhanallah!

Bahkan, tidak saja dihajikan secara gratis, Pak Parman akhirnya dibuatkan rumah oleh orang kaya tersebut. Maka, semakin berkahlah hidup si tukang becak berhati mulia itu. Dan sejak itu, Pak Parman pun bisa tinggal di sebuah tempat yang nyaman dan tidak memikirkan lagi uang untuk kost di bulan berikutnya.

Demikian kisah tukang becak yang bisa naik haji karena sedekah yang dilakukannya. Apakah kita sudah seperti Pak Parman? Dia yang miskin masih memikirkan untuk berbagi untuk orang lain, apalagi kita yang mungkin lebih mampu dibandingkan dia. Mudah-mudahan kita bisa mengikuti jejaknya, terutama dalam hal ketulusannya dalam berbagi! Aamiin.

SUBHANALLAH

THE GREATEST REWARD

SEBUAH KEAJAIBAN TUHAN

Sabtu, 18 Februari 2012

Catur *.*

 
c a = ca = t u = tu = r = catur ^-,-^


halo temen-temen?? halo xD
kalian tau catur? Tau lah pasti, masak nggak tau. Search aja di mbah google pasti ketemu :D tapi kalian juga bisa tau kok kalo baca ini.

CATUR, merupakan salah satu olahraga yang spesial xD loh kok bisa? Soalnya biasanya kalo olahraga itu membutuhkan tenaga fisik yang ekstra. Tapi di catur ini kalian ga butuh tenaga fisik yang bener bener ekstra, tapi harus menggunakan konsentrasi yang penuh, ketelitian dan kesabaran. Konon, permainan catur dimulai pada jaman India kuno, dengan nama Chaturanga  yang artinya empat divisi/anggota/tentara india (Prajurit, gajah, kereta tempur dan kuda), konon loh (katanya) :D

Catur juga salah satu ektrakulikuler yang ada di GRISSA. Katanya sih catur ada di grissa sejak tahun 1997 loh :O hebat banget khan? Mungkin aja kalian ada yang belum lahir, bayangin aja kalo dari tahun 1997 sampek sekarang, brati udah 15 tahun khan?? (y)
Catur diikuti oleh 21 orang, tapi sekarang ini peminat catur semakin berkurang. Termasuk gue lhoh :D. Mungkin karena bosen menghadapi kotak2  dan ketidak sabaran, benar khan? Tapi ga tau juga sih. Catur ini dibina oleh bpk Marno dan bpk Suparto. Biasanya ekskul catur ini ada setiap hari Senin jam 14.00 – 16.00.

Hmm..
Di balik itu semua, ternyata catur sudah cukup banyak mengharumkan nama Grissa pastinya. Misalnya kejuaraan POPDA, Salatiga CUP, KEJURPROV, bahkan KEJURNAS dan pastinya masih banyak event-event lain.

Ohya, sekian dulu ya cerita tentang catur dari kita ;)
Semoga bermanfaat ^^ bagi kalian yang minat ataupun bakat, ayo gabung aja di catur grissa!! Siapa tau kalian bisa menang di kejuaraan catur kayak yang lainnya.


Kamis, 15 Desember 2011

Salatiga Kotaku Tercinta :)

Salatiga kota tercinta ini, sekarang sudah berumur 1261 tahun. Saya rasa, sudah tak terdengar lagi angka pengangguran yang tinggi di Salatiga. Pemerintahan yang berjalan, rasa-rasanya mampu untuk dikatakan sukses dalam masa kerjanya. Ditinjau dari aspek lain, kriminalitas tak terasa begitu menggemparkan telinga. Meskipun, kita masih ingat betul kejadian yang menewaskan sekitar 20 orang akibat minuman keras oplosan.
Kenyamanan bertempat tinggal, rasa aman, tenteram, dan kesejahteraan secara umum masih bisa dinikmati. Kota Salatiga, masih menjadi kota dengan tingkat keamanan tertinggi di Jawa Tengah. Itu sebabnya, Salatiga terkenal dengan sebutan kota pensiun. Artinya, banyak warga dari berbagai kota setelah pensiun pindah penduduk ke Salatiga. Keakraban masih terjalin kuat, meskipun keberagaman masyarakatnya luas. Tetapi, apa pendapat dari warga Salatiga?
Dibutuhkan kacamata untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan itu sendiri.  Tidak semua masyarakat yang tinggal di Kota Salatiga merasakan pembangunan yang diupayakan untuk masyarakat sendiri. Ruko yang meruntuhkan bangunan lama dan pasar modern yang menggeser pasar tradisional, misalnya.
Masyarakat menengah ke atas, tentu memilih apa yang sudah tersedia dengan mudah. Pasar modern menawarkan barang yang dibutuhkan dengan perbandingan harga yang relatif tipis dengan pasar tradisional. Dari tata letak, pasar modern lebih unggul dengan banyaknya pasar modern yang berdiri hampir di setiap sisi jalan raya dan tempatnya pun lebih bersih. Meskipun kualitas barang yang di jual, mungkin tetap lebih di bawah pasar tradisional. Sehingga banyak sekali toko-toko kecil usaha masyarakat itu sendiri kalah bersaing.
Apakah ini akan mempengaruhi kelangsungan hidup mereka? Ya, tentu saja. Masyarakat yang ada, masih banyak yang harus berjuang untuk keberlangsungan hidup mereka sendiri. Fenomena tiap fenomena perlu lebih anda cermati.
Romusha, rodhi, atau kerja paksa, tentunya masih lekat. Mimpi buruk yang teramat sangat keji dan tidak berperikemanusiaan. Tetapi, sisi lain dari masa suram itu serasa seperti kita sembunyikan. Pengangguran jauh lebih sedikit dibandingkan apa yang kita saksikan sekarang. Apakah kita salah untuk memberlakukan lagi kerja paksa di Salatiga ?  Tentunya dengan penerapan yang berbeda. Masyarakat menganggur membutuhkan pekerjaan dan upah. Ide saya dan kakak saya memunculkan kerja bagi mereka yang membutuhkan. Masyarakat yang hidup di bawah standar kelayakan hidup tentu membutuhkan upah, rumah layak tinggal, dan juga kesejahteraan hidup. Maka kita gabungkan kedua pemikiran tersebut. Begitu indah jika rumah susun sewa sederhana yang sudah ada dan ruko-ruko yang berserakan di penjuru kota, kita ganti dengan gagasan baru untuk memberikan kesempatan mayarakat bekerja dengan dorongan dari pemerintahan yang dipaksakan. Rumah layak pakai, tidak ada pengangguran, dan juga kesejahteraan hidup, saya rasa bukan isapan jempol.
Dalam perhitungan ekonomi daerah, tentu pemerintah dan masyarakat lain dirugikan.  Akan tetapi, jika kita bisa mendapatkan investor seperti investor pembangunan ruko, tentu saja akan berbeda cerita.Saya tahu, masalah tak akan selesai dalam jangka pendek. Oleh karena itu kerja paksa yang kita laksanakan dalam prakteknya, bukan kerja paksa dengan arti sebenarnya, tetapi kita berikan pelatihan khusus bagi masyarakat minoritas tersebut. Dan mewujudkan kota kita yang berkarakter dan berbudaya. Seperti, pembuatan batik batu khas Salatiga, enting-enting khas Salatiga, menjahit, warung makan dengan keanekaragaman rasa, bahkan salon.
Seandainya rumah sewa yang ada di berikan gratis bagi masyarakat tidak mampu, dengan timbal balik masyarakat itu bekerja sesuai dengan apa yang di prioritaskan oleh ide itu sendiri. Saya rasa akan menguntungkan bagi semua lapisan masyarakat yang ada.
Seperti diberikannya beberapa bidang pekerjaan. Ibu-ibu yang hanya mampu memasak di berikan lahan untuk berjualan makanan bagi warga rumah sewa tadi. Beberapa bisa diberikan modal untuk loundry guna mengurangi kemungkinan adanya kekumuhan yang ada, pemuda di bekali cara membuat bathik khas Salatiga, pemuda yang lain diberikan modal usaha membuat janjanan khas Salatiga, dan lain-lain lagi.
Seperti yang telah bapak walikota bayangkan sebelumnya. Ketika pemikiran ini terwujud. Masihkah ada kerugian yang di dapat pada berbagai pihak? Saya rasa, pemikiran sebelumnya, yaitu memunculkan keuntungan di setiap lapisan masyarakat akan terwujud.  Investor tentu dapat keuntungan juga yang di dapat dari penjualan produk yang dijual kepada masyarakat lain seperti pada fungsi ruko yang sekarang kita lihat ini. Pengangguran juga jelas berkurang dalam penerapannya. Pemerintah akan berhasil dalam menjalankan kewajibannya menyejahterakan rakyatnya. Bahkan, masyarakat yang sebelumnya berada di bawah standar kelayakan hidup juga mendapatkan penghidupan yang layak. Dan juga memberikan perhatian pada anggota masyarakat yang miskin untuk mendapatkan pelayanan pendidikan dan kesehatan.
Ide saya mewujudkan penataan kota yang ramah lingkungan dan  pelestarian budaya. Peningkatan keseimbangan pembangunan dengan pelestarian lingkungan dengan mengedepankan implementasi tata ruang, keseimbangan bangunan dengan kawasan hijau, perlindungan benda cagar budaya serta peningkatan apresiasi budaya lokal Kota Salatiga.
Dilihat dari hasil untuk umumnya, sekolah tidak lagi bingung dalam membuat seragam identitasnya, anggaran daerah menjadi lebih tinggi, kemodernan daerah kita yang menjadi lebih bermutu, Kota Salatiga akan mampu diupayakan lanjut bukan hanya memiliki museum kota, tetapi Kota Museum,  bahkan Salatiga dapat dikenal menjadi Kota Batik, Kota Pelajar, bahkan Kota Pelopor.
Sekiranya ini merupakan cerita dan ide kakak saya, tentunya banyak sekali tutur kata yang tertulis, kurang berkenan di hati.  Sehingga saya mengucapkan banyak sekali permohonan maaf. Dari lubuk hati saya yang terdalam, saya mengucapkan pula banyak terima kasih atas perhatiannya.

Rabu, 30 November 2011

^_^

hallo :D
Perkenalkan namaku Afifah Dyah Paminta Lestari, biasa dipanggil IVO, meskipun ga nyambung :D
aku lahir di Salatiga, 12 September 1999. oleh Sugiman Wignyo Prajarto da Sri Lestari Wahyu Handayani. Dan aku punya kakak Anggit Kurniawan Wisuda.

Ikuti terus semua hal yang seru di blog ini ya :D